Senin, 17 Juni 2013

TITIPAN



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dan Selamat malam ~
Lama gak berjumpa, lama gak menulis, dan lama gak menumpahkan unek-unek dalam otak yang nyaris Menuhin otak saya akhir-akhir ini. Puji syukur, masih diberikan kesehatan oleh Allah Swt. Biar bisa menyapa kalian semua lagi. Malam ini Senin, 17 Juni 2013 gue terduduk diam, di sudut rumah kerabat dekat mama di daerah tenggara pulau Sulawesi, ekspektasi yang udah di atas wajar mengalahkan segerombolan nyamuk yang mungkin berniat nemenin saya malam ini haha, Okeh demi efisiensi waktu tanpa banyak bacot, kita mulaaaiiii…. ~

Kali ini masih seperti eposide yang dulu, masih berisi tentang sekelabat curhatan tentang beberapa pengalaman yang akhir-akhir ini memang sangat menyiksa dan menguras pikiran, beberapa waktu lalu saya atau lebih tepatnya KAMI terkena musibah yang membuat hidup kami berubah 180derajat, mengubah kami yang biasanya tidur nyenyak dengan sorot lampu terang menjadi sekelompok orang yang tidur di atas ubin dengan tikar seadanya yang jauh dari kata benderang. Yup, kita semua gak bisa menyalahkan salah satu pihak untuk dijadikan yang bersalah, mungkin ini kali ya yang orang bilang “GOD PLANING”
J

Berawal dari sabtu kelam di bulan maret yang mungkin menjadi weekend tersuram dalam hidup saya, si merah mengamuk dengan gagahnya menghancurkan harapan, impian dan membuyarkan masa depan yang telah dirintis para korban mungkin termasuk saya. Sesuatu yang bertahun-tahun dicapai orangtua saya habis hanya dengan waktu yang terbilang cukup singkat, Habis tanpa sisa meninggalkan sekelumit kenangan yang bikin hati saya cukup risau kalo  mengingat-ingat apa yang udah pernah saya miliki. Jujur, saya marah, saya kesal, dengan si pemilik rumah tempat awal dari mimpi buruk itu terjadi, entah pikiran apa yang telah mempengaruhi saya hingga timbul rasa dendam dan ingin menghardik.

Terlepas dari itu. Sejalan dengan waktu, saya mulai terbiasa dengan semuanya, terbiasa dengan keterbatasan, terbiasa dengan ketidakmampuan yang notabene “dulu” mampu saya lakukan. Saya mulai berpendapat, bahwa semua ini hanya titipan yang sewaktu-waktu, tuhan dapat ambil dengan semaunya jika dia merasa bahwa saya tidak pantas atau memperlakukan titipan itu dengan tidak bijak haha, pikiran yang terus saya bina untuk melawan rasa dongkol jika kembali teringat apa yang pernah saya miliki. Butuh waktu yang gak singkat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan saya yang baru, ya,.. disini juga peran mama saya sangat terlihat, dia gak mau terlihat sedih apalagi nangis di depan saya, karena dia tau itu hanya buat saya kembali flashback ke belakang. Dia berusaha menguatkan saya untuk tetap menegakkan kepala dan tidak berpangku tangan atas apa yang saya hadapi, she is my inspiration J

Saya teringat dengan kata-katanya ketika pertama kali bertemu sehabis di kabari tentang musibah itu, dia menatap saya dengan penuh keyakinan dan bilang “ Sudah nak, ndak usah ditangisi itu cuman titipan. Nanti ketika kita sudah siap, pasti kita akan dititipkan lagi “.

Perlahan saya  sadar, mungkin ini juga bagian dari kesalahan saya. Mungkin tuhan beranggapan kalo saya sudah memperlakukan titipan-Nya ini dengan tidak bijak sehingga saya diberi pelajaran agar lebih menghargai setiap titipannya sekecil apapun itu. Kali ini saya baru benar-benar sadar, rasanya kehilangan, dan berusaha menghargai itu ketika diberi lagi. Banyak orang di luar sana yang bekerja keras, mengeksplor seluruh kemampuannya hanya untuk merasakan yang namanya “memiliki sesuatu yang diinginkan” mungkin karena saya gak melewati tahap “bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu” itu, membuat saya jadi lupa diri, lupa kalo benda mati juga ingin diperlakukan secara bijak.


Be Patient and Be Strong terus tertanam di otak saya yang, karena hanya dengan dua variabel itu, saya bisa tetap menegakkan kepala untuk melangkah kedepan. And Then, Semua kejadian ini saya ambil hikmahnya aja, Tuhan memberi cobaan bukan karena dia benci dengan mahluknya itu, tuhan memberi cobaan karena dia sayang sama saya, dia peduli sama saya, dia gak ingin saya lupa diri. Dia ingin mengingatkan kami bahwa ITU miliknya, tidak ada yang ingin semuanya terjadi, tidak ada yang perlu disalahkan, mungkin sekarang waktunya untuk koreksi diri masing-masing. Sudahkah anda perlakukan titipan tuhan itu secara Bijak? Sekian dulu ya ~

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar