Jumat, 20 Juni 2014

Malam yang dingin, dengan kopi yang tetap hangat.

PERPISAHAN, Begitu mereka menyebutnya... 


Selamat Malam teman-temann..
 
Huahh lama rasanya tak menyapa kalian, Sudah hampir 2 tahun vakum nge-blog. Nda punya alasan lain, selain sedang sibuk dengan aktivitas baru, punya kesibukan di bidang perdagangan (baca: jadi olshop), dan sibuk belajar selama 10 bulan terakhir untuk menyambut salah satu penyebab depresi berat anak-anak Indonesia yaitu, Ujian Nasional. Mendengar kata Ujian mungkin muncul di benak kalian, hal-hal berat yang akan kita lewati. Di Indonesia kata Ujian memang sering dikonotasikan secara negatif, sesuatu yang sangat menakutkan. Padahal jika dilihat dari sudut pandang positif, kata Uji akan merujuk ke suatu keadaan yang harus dilalui tiap manusia untuk menjadi lebih baik lagi. Jika tak ada ujian, kita hanya akan stuck disitu-situ saja. Tidak berkembang dan lama kelamaan akan punah (baca: tak berguna).

Wah.. awalannya saja sudah berat-berat begini, astagaa -__- oke, kali ini saya tidak akan bahas tentang ujian. Malam yang dingin ini, saya akan bahas tentang “ Perpisahan “. Sebuah kata yang terdengar suram, dan mungkin tak satupun yang menginginkannya terjadi. Tetapi, tidak bisa dipungkiri, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. 2 hal yang selalu beriringan satu sama lain dan tak terelakkan. Yang terpenting pada perpisahan selalu menyisakan pilihan. Pertama, melupakan semua yang terjadi dan memulai pertemuan dengan orang-orang baru. Atau kamu bisa memilih pilihan kedua, yaitu terus mengingat apa yang pernah terjadi dan menjadikannya pelajaran bagi pertemuan-pertemuan selanjutnya, tentunya dengan orang-orang yang baru pula
J

Berat rasanya harus melewati perpisahan, sebab otomatis kita akan memulai pertemuan baru, dengan orang-orang yang baru. Secara psikologis, kita akan mencoba beradaptasi dengan hal-hal baru tersebut. Tidak sedikit orang yang sudah terlanjur nyaman dengan masa lalunya, sehingga membuat dia sudah ‘tidak bisa’ beradaptasi dengan apa yang sedang dialaminya sekarang. Mereka yang sulit meninggalkan kebiasaan yang sudah lama dilakukannya pasti dikarenakan orang yang harus terpisah dengannya adalah orang-orang yang berARTI dalam hidupnya. Punya tempat special dan mungkin saja tak tergantikan. Ohiya, malam ini perpisahan yang kumaksud adalah perpisahan dalam konteks pertemanan, bukan percintaan. Saya sudah komitmen untuk ndak tulis, tulisan galau lagi. Selain mengurangi kemampuan OTAK. Galau berlebihan akan buat hidup terasa hampa, padahal masih banyak loh nikmat tuhan yang harus kita syukuri. Simpelnya: nikmat kesehatan, yang buat saya tetap bisa menyapa kalian pembaca setiaku
J

Oke, back to the topic. Di kehidupanku sekarang, saya punya teman-teman yang benar-benar keren. Mereka adalah orang-orang yang seru, asik, dan tidak suka menyombongkan diri (walaupun sebagian ada yang punya, hehe). Mungkin saya akan sangat sulit menghilangkan, lebih tepatnya mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang sangat sering kulakukan bersama mereka. Seperti, ngumpul-ngumpul bareng, hangout bareng, makan-makan bareng, calla orang bareng. Semuanya akan sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin tidak sampai menghilangkan sih, karena kami tentunya masih bisa melakukan itu bersama-sama. Tetapi yang biasanya kami lakukan tiap hari, akan berkurang menjadi ‘sekali-sekali’ apalagi otomatis menginjak SMA nanti, hari-hari akan disibukkan dengan tugas yang menumpuk.

Mungkin tidak ada lagi kata “Brayen, ayo pergi makan dlue..” atau “ pi nonton deh.. ada film keren bde di Bioskop” yang keluar dari mulutku seperti biasa, Sangat teramat berat meninggalkan apa yang sudah dilakukan kurang lebih 3 tahun terakhir, meninggalkan orang-orang yang selama 3 tahun selalu kuliat tiap pagi tanpa rasa bosan sedikitpun. Meninggalkan orang-orang yang menuntut ilmu bersama saya tiap hari. Meninggalkan orang-orang yang selalu menyapa tiap pagi walaupun hanya sekedar “ Pagi didy..” :’)

Orang - orang yang selalu ada ketika saya ngomong, “weh, bantu dlue..” meskipun acap kali suka saling calla satu sama lain, tapi mungkin karena sudah terlalu sering, jadi rasa tersinggung tak pernah hinggap di hati mereka yang teduh itu. Mereka orang-orang hebat yang selalu support dan apresiasi apa yang kulakukan, begitupun sebaliknya. Apa yang mereka lakukan akan mendapat dukungan dari saya. Mereka bukan sekedar teman, tetapi juga keluarga kedua buat saya.

My second family, tempat bagi-bagi cerita, tempat galau-galau bersama, tempat main-main sama, tempat menyandarkan hati ketika butuh nasehat dari seorang teman. Teman-teman yang betul teman, bukan mereka yang lari ketika terkena musibah. Hatiku tersentuh ketika tahun lalu saya dapat musibah, mereka betul-betul support saya, baik dari segi materi maupun psikologis. Teringat kata-kata dari salahsatu teman “Sabarko nah.. cobaan ji ini, nanti ada gantinya” atau “ Jangko pindah bde didy, kangenki semua pasti sama kau” yang betul-betul buat saya sadar, kalo saya ada di tengah-tengah mereka. Berusaha untuk saling bantu, dan saling menghangatkan ketika salah satu dari kami terkena hipotermia dunia.

Ketika lagi nulis ini, lagu di Handphone sedang memutar, It’s not over – nya Secondhand Serenade. Dan akhirnya menyadarkan saya kalo ini memang belum berakhir, kami masih bisa ketemu tetapi bukan di tempat yang sama lagi, bukan di tempat yang sering kami banggakan. Melainkan di waktu-waktu ke depan, di saat kami tak satu sekolah lagi, tapi masih menyandang status “sahabatan”. Sebuah status yang tidak akan pernah memiliki kata depan “mantan”. Status yang akan terus melekat pada mereka. Karena bagi saya, tidak ada mantan sahabat. Mereka akan tetap punya tempat tersendiri di hatiku, walaupun mungkin 5-10 tahun ke depan. Saya akan tetap menjadi didy yang nyeleneh, dan suka lontarkan lelucon spontan ke mereka. Tidak ada yang berubah, mungkin suasana yang akan sedikit berbeda ketimbang saat kami masih sekelas dulu J

Terimakasih teman-teman sudah jadi teman yang terbaik buat saya, terimakasih atas segala yang kalian pernah lakukan untuk saya. Dan Mohon maaf jika ada perkataanku yang buat hati kalian pernah atau masih tidak sreg. Kalian adalah teman terbaik yang pernah saya miliki, teman-teman yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup saya. The true friends, yang sering sadarkan saya ketika saya kelewat batas. Tulisanku ini ku-dedikasikan untuk teman-teman The cihoxxx, Khususnya Brayen, Achmad, Reski, Bimo. 4 orang yang sangat berharga dihidupku, teman-teman A10, B10, C10. (Yang tidak bisa disebutkan namanya satu-persatu) Teman-teman Thesoms2014, adek-adek kelas yang pernah kenal sama saya. teman-teman yang merasa pernah kenal sama saya atau pernah dengar nama saya baik itu anak SMP 7 maupun SMP 5 dan Sekolah lainnya. Kalian benar-benar HEBAT, Saya senang dan amat beruntung punya teman seperti kalian. Pertama kali dalam hidup saya, saya merasa tidak sendiri melewati masalah.

Akhir kata, Tulisan ini berhasil buat saya nangis bahagia :’D Nangis karena harus berpisah dengan orang-orang yang (sekali lagi) sangat HEBAT! Dan Bahagia karena ditakdirkan untuk berteman dengan orang-orang seperti mereka. Izinkan saya, untuk mengutip quotes Dari tokoh kartun legendaris, Spongebobs Squarepants yang pernah berkata:

“Jika uang dapat membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uang sama sekali “

SELAMAT MALAM DUNIA! BIG THANKS FOR READING MY BLOG
( @ahmadryadi_)
 

1 komentar:

  1. Hai Didiy .Ingatkan Ane siapa. Dari awal kamu ngepost sampai detik ini . masih tetap sama . Sama-sama menjadi penggemar tulisan. Di tunggu ya tulisan2 selanjutnya .

    BalasHapus